Masjid Tiban salah satu wisata religi di Malang, Jawa Timur yang menarik perhatian pelancong. Masjid megah nan indah mirip kastil dihiasi kubah berwarna biru dan putih yang ternyata dibangun tanpa arahan arsitek.

Harga Tiket: Gratis, Jam Operasional: 24 Jam Alamat: Jl. KH. Wachid Hasyim, Sananrejo, Kec. Turen, Kota Malang, Jawa Timur; Map: Cek Lokasi

Kehadiran masjid Tiban memang sangat berarti bagi warga sekitar. Tercermin lewat banyaknya usaha kecil yang beroperasi karena padat wisatawan. Salah satu contohnya adalah parkiran. Anda tidak perlu bingung bila kehabisan ruang untuk memarkir kendaraan di dalam kompleks pondok pesantren.

Ada sebuah gang sepanjang kurang lebih 100 meter yang menghubungkan Masjid Tiban dan jalan raya. Kontras dengan kemegahan bangunan, area ini justru tampak sesak. Aneka souvenir berbaris dari mulut gang hingga mendekati gerbang utama.

Perlu diketahui, Anda harus melepas alas kaki ketika memasuki masjid. Karenanya, siapkan plastik pembungkus dari rumah agar sandal atau sepatu Anda tidak hilang. Namun, jika enggan membawa sendiri, ada penjual plastik pembungkus di halaman masjid. Harganya berkisar Rp500-an.

Fakta dan Sejarah Masjid Tiban Malang

Fakta Masjid Tiban Malang
Image Credit: Twitter.com @Amarullah_Lubai

1. Berawal dari Pondok Pesantren

Masjid Tiban semula merupakan sebuah pesantren dibawah asuhan Romo Kiai Ahmad. Memiliki nama lengkap Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah atau Bi Ba’a Fadlrah. Warga sekitar melabeli demikian karena percaya bangunan ini jatuh atau muncul tiba-tiba berkat bantuan kekuatan jin.

Tiban dalam bahasa Jawa bermakna jatuh. Namun, pihak pengelola pesantren sudah menampik rumor tersebut. Di samping itu, masjid ini bukanlah tempat wisata. Tujuan pembangunannya tidak menyasar sektor tersebut. Hanya saja, kemegahan arsitektur dan mitos yang mengikuti agaknya berhasil mengundang rasa penasaran.

Tak pelak, membuat orang berlomba-lomba datang ke sini. Setiap hari selalu ramai pengunjung terutama pada momen hari raya. Mau tak mau, pihak pengelola membuka akses untuk masyarakat luas. Seiring berjalannya waktu, Masjid Tiban mengalami banyak perombakan.

2. Hasil Kerja Sama Para Santri dan Warga Sekitar

Pembangunan masjid ternyata tidak melibatkan tenaga arsitek profesional. Prosesnya mengikuti arahan Romo Kiai Ahmad selaku pemilik pondok pesantren. Beliau menyampaikan ilham yang didapat lewat salat istikharah kepada santriwan. Kemudian, para santrilah yang melakukan eksekusi secara teknis.

Pekerja utama dalam pembangunan tersebut memang santri di Pondok Salafiyah. Jikapun ada tenaga tambahan, biasanya mengundang warga sekitar. Dengan kata lain, Masjid Tiban didirikan oleh manusia. Fakta ini sekaligus menampik rumor mengenai ulah jin.

Menariknya, Romo Kiai Ahmad belum pernah ke luar negri kecuali untuk ibadah haji. Beliau hanya mengarahkan sesuai inspirasi pribadi, yang kemudian diterjemahkan oleh para santri. Tak heran, gaya arsitek dari masjid ini terkesan memadukan beragam konsep budaya. Barangkali, ketiadaan ciri khas aliran desain inilah yang jadi poin pemikat utama.

BACA:  Pulau Sempu, Surga Bahari Tersembunyi & Terlarang di Malang
Fakta Masjid Tiban
Image Credit: twitter.com @pegipegi

3. Didirikan untuk Belajar Mengaji dan Konsultasi

Masjid Tiban sebenarnya adalah rumah Romo Kiai Ahmad pada tahun 1963 silam. Beliau dikenal sebagai alim ulama sehingga memicu inisiatif warga sekitar untuk meminta diajari mengaji. Rumah tersebut semakin ramai dikunjungi. Hingga akhirnya, diresmikan sebagai pondok pesantren tahun 1976.

Seiring berjalannya waktu, rumah ini perlahan direnovasi oleh sang pemilik. Kelak, difungsikan jadi hunian para santri. Kala itu, bentuk dan material bangunannya masih sederhana. Situasi yang wajar mengingat zaman dulu pemenuhan hajat hidup serba terbatas. Tahun 1994 sempat dihentikan dan baru mulai lagi setelah memasuki 1998.

Keputusan tersebut dibuat atas dasar niatan untuk membantu mengatasi krisis moneter yang tengah bergejolak saat itu. Benar saja, pemerintah setempat perlahan memberi perhatian. Bahkan, proses perizinan mendirikan bangunannya dibantu dan dipermudah.

Jelaslah, bahwa masjid ini dibangun untuk memfasilitasi belajar mengaji sekaligus konsultasi masalah. Romo Kiai Ahmad dahulu secara aktif membantu mencari solusi atas persoalan yang dialami para santri. Menurut penuturan Kisyanto selaku panitia masjid, beliau akan salat istikharah ketika ada seseorang yang mengadu.

Keunikan dan Daya Tarik yang Dimiliki Masjid Tiban

Keunikan Masjid Tiban
Image Credit: Facebook.com @anie.dhabitah

1. Punya Fasilitas Jempolan

Tak hanya menawarkan arsitektur campur sari dari berbagai penjuru negeri, Masjid Tiban juga didukung oleh fasilitas memadai. Bangunan bertingkat 10 ini memiliki kegunaan berbeda di setiap lantai. Agaknya, inilah yang menyebabkan pengunjung betah berlama-lama di sini.

Semua kebutuhan pengunjung telah diakomodir. Bahkan, Anda yang kurang mampu menjelajah dengan cara manual, disediakan lift sebagai alternatif mobilisasi. Di lantai 1, banyak spot dijadikan arena bersantai pengunjung. Sekitar 20 meter dari pintu masuk, Anda bisa menemukan kolam air mancur di bagian terbelakang.

Kolam tersebut dilengkapi lantai bersih dan kerap dipakai lesehan. Ikan-ikan cantik hidup di dalamnya. Di dekat sini ada pula tanaman yang merambat pada tembok bebatuan. Ketika menengadah, Anda akan disambut hamparan langit. Angin sepoi-sepoi bercampur dengan dinginnya ubin masjid akan membuat orang terlena.

Beranjak ke lantai 2 dan 3, deretan akuarium akan menemani Anda. Pihak pengelola memang menyediakan kawasan konservasi di sini. Mulai dari ikan kecil hingga seukuran lengan orang dewasa. Aneka spesies ikan tampak berwarna-warni.

Berikutnya, lanjutkan perjalanan menuju lantai 4. Tempat tinggal para pengasuh pondok. Namun, tidak jarang diubah jadi area untuk melangsungkan pernikahan. Lantai 5 kerap dijadikan tempat mimbar saat hari raya. Jika merasa kesulitan menjelajah sendiri, ada santri yang siap memandu.

BACA:  20 Oleh-Oleh Khas Malang Paling Populer

Anda capek dan lapar? Silakan naik ke lantai 8. Sejumlah warung dan cafetaria telah menyediakan makanan. Ingin berbelanja? Turun lagi ke lantai 7, sudah ada pusat perbelanjaan. Adapun lantai 6, berfungsi sebagai hunian para santri. Jumlah pelajar di pondok pesantren ini mencapai 350-an.

Selain itu, musala terletak di beberapa lantai. Toilet menyebar dalam jumlah banyak. Masjid Tiban juga memiliki pos penjaga berbentuk seperti candi. Ada pula loket. Barang Anda bisa dipastikan aman. Aneka pepohonan rindang mengisi halaman dari pelbagai sisi. Serta-merta menciptakan suasana sejuk dan menenteramkan.

2. Kebun Binatang Mini

Kebun binatang mini terletak di lantai 3. Aneka satwa jinak dipelihara dan hidup berdampingan dengan manusia. Ayam, burung kakaktua, monyet, landak, dan rusa. Fakta lainnya, nyaris tidak dilakukan aktivitas menebang pohon di Pondok Pesantren Salafiyah. Biasanya, para santri hanya memindahkan pohon bila dirasa kurang rapi.

Situasi demikian merupakan bentuk implementasi nilai-nilai ajaran Islam. Santri dibiasakan untuk menerapkan harmoni dalam kehidupan. Semua makhluk pada dasarnya berasal dari Tuhan, itulah kenapa harus sinergi dan damai.

3. Miniatur Lereng Gunung dan Gua di Puncak Bangunan

Selanjutnya yang tidak kalah unik, yaitu keberadaan miniatur lereng gunung dan gua di bangunan ini. Setelah lelah menyambangi lantai 1 sampai 8, waktunya Anda melakukan relaksasi di bagian puncak. Ketika menapaki lantai 9, pengunjung akan mendapati area yang didesain sedemikian rupa sehingga tampak menggambarkan lereng gunung.

Masih di lantai yang sama, ada pula kebun binatang mini di sini. Beranjak ke tingkat tertinggi, kini puncak gunung dan gua yang menjadi pemanisnya. Tak berhenti di situ, Anda bisa melongok ke bawah untuk melihat-lihat pemandangan. Diberi pagar pembatas untuk mengamankan pengunjung.

Berada di area terbuka, ditemani angin yang seolah menampar wajah, Anda akan merasakan kebebasan. Langit terasa persis di atas kepala. Disarankan agar berkunjung saat musim kemarau. Dengan begitu, lanskap yang ditawarkan berkali lipat lebih indah. Anda pun berkesempatan memandang fenomena matahari terbit dan tenggelam.

Apabila memungkinkan, sebenarnya Anda bahkan bisa melihat bintang pada malam hari. Pasalnya, Masjid Tiba beroperasi selama 24 jam penuh. Pengunjung bisa datang kapan saja. Agar lebih mudah, tidak ada salahnya mencari penginapan di sekitar lokasi.

Alamat dan Rute Menuju Lokasi Masjid Tiban

Alamat Masjid Tiban
Image Credit: Google Maps (Ad0a0m Smithy)

Banyak rute yang dapat Anda pilih untuk menuju Masjid Tiban. Aksesnya cukup mudah meski di beberapa titik kondisi jalanan kurang baik. Jika berpatok pada pusat Kota Malang, butuh waktu sekurang-kurangnya 45 menitan menggunakan motor. Anda akan melewati beragam belokan hingga tiba di Kecamatan Turen, Kabupaten Malang.]

BACA:  Pantai Ngliyep, Wisata Pantai Nan Eksotis Sarat Mitos di Malang

Berlokasi di Desa Sananrejo, Anda pun bisa menumpang angkutan umum. Ambil angkot berkode AG jika berangkat dari Terminal Arjosari dan LG untuk Terminal Landungsari. Tujuan Anda adalah Terminal Hamid Rusdi. Sesampai di sana, turun dan carilah bus jalur Malang-Turen-Dampit.

Setelah itu, minta sopir untuk berhenti di kawasan Turen. Usahakan yang dekat dengan pangkalan ojek. Kemudian, teruskan perjalanan menuju Jalan KH. Wahid Hasyim, Gang Anggur. Bisa dikomunikasikan kepada tukang ojek. Jika ragu memakai jasa ojek konvensional, Anda bisa memberdayakan aplikasi mobile.

Estimasi biaya yang harus Anda siapkan bila memakai transportasi umum paling tidak sebesar Rp 30.000. Ini karena sewa angkot di Malang Raya rata-rata berkisar Rp 5.000. Adapun ojek konvensional, harganya bisa dinegosiasi.

Di sisi lain, terlepas dari uang bensin, Anda hanya perlu membayar parkir Rp 2.000 – Rp 5.000 jika memakai kendaraan pribadi. Tidak ada biaya tiket masuk ke Masjid Tiban. Namun, pihak pengelola memberi ruang bila Anda ingin bersedekah.

Desain Bangunan Masjid Tiban Malang

Desain Masjid Tiban Malang
Image Credit: Google Maps (Alvin Hakim)

Ketika pertama kali memasuki halaman Masjid Tiban, Anda akan menemukan tiga gerbang besar. Gerbang ini menghubungkan bagian dalam bangunan, komplek pondok pesantren, dan lahan parkir. Dari jarak 100 meter, Anda sudah dapat menyaksikan perpaduan gaya arsitektur megah nan unik.

Menyajikan budaya Asia, Timur Tengah, hingga Eropa dalam satu bangunan. Desain eksterior didominasi oleh warna putih biru tua. Sementara itu, interiornya bernuansa serba kuning keemasan. Ada studio foto mini di sisi kiri pintu masuk. Sekitar 1 meter ke depan, guci-guci antik berisi potongan batu berjajar rapi.

Di sisi kanannya, Anda akan mendapati sederet akuarium dan sebuah pintu. Pintu ini terhubung dengan lantai dua, yang mana ada lebih banyak akuarium di sana. Langit-langit berhiaskan lampu gantung, dindingnya dipenuhi ukiran rumit. Tiang-tiang kokoh menopang bangunan. Dilengkapi sejumlah vas tinggi yang tampak gagah.

Dibanding sebuah tempat belajar dan ibadah, justru terlihat bagai istana. Tulisan Asmaul Husna dan kaligrafi semakin mempercantik potret Masjid Tiban. Bangunan bertingkat 10, yang mana setiap lantai punya fungsi masing-masing. Mengisi 18,75% lahan dari total komplek seluas 8 hektare. Seolah belum cukup, didukung pula beragam fasilitas.

Sungguh menarik, bukan? Anda berkesempatan merasakan berbagai sensasi ketika mampir ke sini. Patut kiranya memasukkan Masjid Tiban dalam daftar wisata religi. Objek satu ini mampu menggenapkan momen liburan Anda. Tidak hanya arsitektur dan cerita misteri, bahkan ikon yang ditonjolkan bisa dibilang paket komplet.